Kamis, 28 Februari 2008

FS METER

Field Strength Meter

Descripton
This is a wide band signal strength meter circuit which responds to small changes in RF energy, designed to be used for the VHF spectrum and will respond to AM or FM modulation or just a plain carrier wave.

fsm

Notes:
This circuit measures radio field strength by converting the signal to DC and amplifying it. This field strength meter was designed for VHF frequencies in the range 80 -110 MHz.The inductor L1 is 4 to 6 turns of 20swg wire air spaced wound on a quarter inch former or similar. Alternatively an inductor of value 0.15 - 0.35uH will suffice. Sensitivity is not as good as I would have liked, but a small 9 volt battery transmitter will deflect the meters needle from a distance of up to two feet from the FSM. Higher power transmitters give higher signal strength readings and of course from much further away.The meter used was a signal meter with FSD of 250uA. Lower FSD meters will offer greater sensitivity.

The FET used in this circuit is a general purpose 2N3819. A small telescopic whip antenna is used for signal pickup. The 10k preset resistor is used to adjust bias of the FET circuit; with no transmitter present the meter reading is zero, adjust preset if not. The RF signal, whether modulated or just a plain carrier, is rectified and converted to DC by the diode,capacitor and 3.3M resistor. This small DC voltage just enough to upset the bias of the circuit and hence cause a deflection of the meter.

Selasa, 26 Februari 2008

RADIO SATELIT

Cara Kerja Radio Satelit
Prinsip radio satelit pada dasarnya sama dengan radio konvensional. Bedanya, pemancarnya di atas angkasa. Tentu untuk menghubungkan sinyal tidak menggunakan kabel. Paket siaran itu oleh masing-masing broadcaster ditembakkan ( uplink ) ke satelit dari sembarang tempat, asal masih masuk dalam daerah kekuasaan (cakupan pemancar) satelit. Sinyal digital yang terkodekan secara khusus itu dikirim melalui piringan satelit kecil (small satellite dish) pada frekuensi 7025 – 7075 MHz. Laju data dapat dipilih dari 16 KB/detik (monophonic AM broadcast) hingga 128 KB/detik (sebanding dengan CD stereo).
Di satelit, sinyal itu didekode oleh peralatan yang ada dan ditembakkan kembali ke Bumi pada frekuensi L-Band 1452 – 1492 MHz. Tergantung kontrak dengan WorldSpace apakah sinyal itu ditransmisikan ke satu, dua, atau tiga pemancar sekaligus dalam sebuah satelit. Antena datar yang unik pada masing-masing pesawat penerima menerima sinyal itu. Antena ini dapat dilepas dan memiliki kabel yang cukup panjang untuk memperoleh posisi tangkap yang optimum. Posisi tersebut harus pas agar jelas. Pesawat penerima dapat dioperasikan dengan baterai atau listrik dengan memakai adaptor.
Di Bumi sendiri masing-masing satelit disokong oleh tiga peralatan utama: pusat pengoperasian regional; pusat telemetri, komando, dan ranging, serta pusat pemantauan sistem komunikasi. Masing-masing komponen berfungsi untuk memastikan bahwa sinyal digital yang terbaiklah yang diterima di dalam sistem WorldSpace. Di belakangnya adalah tim profesional yang siap memantau 24 jam sehari tujuh hari seminggu.
Satelit yang digunakan oleh Worldspace adalah jenis geostasioner, yaitu satelit yang mengorbit dengan posisi tetap. Ketinggiannya sekitar 35.000 km di atas ekuator. Rencananya jaringan mereka akan terdiri atas tiga satelit: AfriStar, AsiaStar, dan AmeriStar. AfriStar dan AsiaStar telah diorbitkan, sedangkan AmeriStar baru akan diorbitkan. Dua satelit yang telah diorbitkan tersebut memiliki tiga pemancar (beam) yang masing-masing mampu menyalurkan lebih dari 50 saluran program audio sejernih kristal dan multimedia secara langsung ke penerima portabel. Area cakupannya seluas 14 juta km2 .
Satelit AsiaStar termasuk satelit berdaya besar yang memiliki tiga beam yang akan memancarkan sinyalnya ke tiga lokasi, dimana masing-masing beam mempergunakan dua transponder. Indonesia termasuk dalam beam selatan bersama Singapura dan Malaysia dengan pusatnya di atas Riau, sedangkan beam barat mencakup India dan sekitarnya, dan beam utara mencakup Cina, Korea dan Taiwan. Transponder 5 dan 6 yang terdapat pada beam selatan mempergunakan frekuensi L Band antara 1.467 – 1.492 MHz. Jadi bukan hanya karena menggunakan teknologi digital, tetapi frekuensi cakupan juga berbeda menyebabkan pemakaian radio transistor biasa tidak dapat digunakan. Bandingkan saja dengan penerima FM yang hanya mencakup frekuensi paling besar 108 MHz.
Sinyal yang ditransmisikan ke Bumi oleh satelit hanya bisa diterima oleh pesawat penerima (receiver) khusus yang memiliki Starman chipset. Keping inilah yang memodulasikan sinyal dari satelit dan menerjemahkan dalam bahasa bunyi. Selain itu, pesawat penerima juga secara otomatis menyusun untuk menyesuaikan laju data spesifik bagi program yang ditransmisikan dari satelit AfriStar atau AsiaStar, dari AM ke kualitas CD. WorldSpace menggunakan pemampatan digital MPEG 2.5 Layer 3. MPEG (Moving Picture Experts Group) merupakan standar international bagi pemampatan, decompression, pemrosesan, dan coded representation dari gambar bergerak, audio, atau kombinasinya. Dengan teknologi MPEG, data musik kini dapat dirubah menjadi data digital penuh dan disimpan dalam sebuah hard disc. Dan di dalam hard disc dapat menyimpan berpuluhan ribu file MPEG.
Aksesori pilihan juga disediakan seperti filter anti gangguan, antena yagi, low noise amplifier (LNA), data port interface, dan kabel penghubung sepanjang 25 m. Aksesori ini akan bermanfaat jika kita menggunakan pesawat penerima di gedung atau daerah, yang memerlukan penempatan antena luar untuk bisa bagus mengakses sinyal dan menangkap sinyal multimedia. LNA dirancang untuk penggunaan luar ruang bersamaan dengan antenna luar ruang. Pesawat penerima ini sangat ringan, antara 1,5 dan 3 kg.

Senin, 25 Februari 2008